2017-06-03 04:37:37

"Hanya Perempuan Biasa"

Image

“Mas, pilih saya atau dia mas? Karena pada akhirnya dari dua kemungkinan hanya memiliki satu kepastian mas.” Siapapun yang mendengar suara Diah pasti akan bisa langsung menangkap getaran dalam nadanya. Getaran yang memberi kesan sedih tapi juga sekaligus keikhlasan. Diah, gadis manis berkulit sawo matang dengan kerudung sederhana membalut wajahnya yang mungil. Tubuhnya yang mungil bertambah kentara karena berat badan yang kian menyusut. Bukan tanpa alasan jika Diah semakin lama semakin terlihat kurus dan pucat, beban pikiran menjadi sebab utama.

“Mas, kalau mas sayang Diah, segeralah buat keputusan mas. Diah butuh kepastian, bukan kasih sayang yang tidak lagi utuh mas. Diah yakin mas sendiri juga tidak sanggup berlama-lama mendua seperti ini mas. Diah akan terima apapun itu keputusanmu mas.”

Lelaki yang dipanggilnya mas itu menunduk, menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Menatap wajah istri yang begitu dikasihinya, memandang heran pada wajah yang begitu kurus dan mungil. Berbagai pertanyaan bermain dalam kepalanya, membuatnya bingung dan merasa tak berguna, apakah dia penyebab kusutnya wajah Diah?

“Di, mas sayang sekali padamu Di, bagaimana bisa mas mengambil keputusan ? Ada dirimu di satu sisi dan dia disisi lainnya Di. Apakah mas kurang berlaku adil padamu  Di? Kalau iya, tolong beritahu mas sekarang, mungkin kita masih bisa memperbaikinya.”

Diah tersenyum, hangat memancar dari wajahnya. Ini bukan permintaan yang mudah bagi Diah, tapi setidaknya Diah berhak untuk memintanya dari suami yang bertahan melewati belasan tahun bersamanya, dalam suka dan duka hidupnya selama ini.

Kebahagiaan itu lenyap di tahun kesepuluh pernikahan mereka, saat ibu mertuanya meminta anaknya untuk menikah lagi dengan kerabat mereka. Bukan karena rumah tangganya tak lagi harmonis, tapi karena hingga sepuluh tahun menikah Diah tidak juga kunjung memberi keturunan. Mas Ardi adalah anak pertama dan kebanggaan luar biasa bagi orang tuanya, wajar jika mereka menginginkan keturunan dari suaminya. Diah maklum, walau pada awalnya terpukul. Berbagai usaha sudah dijalani, mulai dari pengobatan tradisional hingga dokter sudah dicoba. Pernah juga Diah mengajukan pilihan lain, mengadopsi anak saudara terdekat, tapi keinginan itu ditolak mentah-mentah oleh ibu mertunya.

“Ibu tidak mau kalian merawat anak angkat, masih ada jalan lain selain adopsi Ardi. Ibu sudah bicara dengan kerabat yang memiliki putri yang masih gadis, anaknya cantik dan masih bujang. Pikirkan baik-baik, kalau memang Ardi masih menghargai ibu, segera nikahi gadis pilihan ibu. Poligami atau apapun namanya tidak masalah, selama dilakukan dengan benar dan halal. Ibu beri waktu kamu satu minggu untuk memikirkan Di, tapi ibu harap jawaban yang datang tidak mengecewakan ibu.”

Semua kalimat itu disampaikan langsung dihadapan Ardi dan Diah, tanpa sedikitpun rasa ragu atau simpati pada perasaan Diah. Diah hanya bisa diam dalam genggaman tangan suami yang menguatkannya. Malam itu, dan malam-malam berikutnya dilalui dalam diam yang panjang. Hingga akhirnya mereka sepakat untuk menyerah, Ardi memilih menikahi gadis pilihan ibunya. Diah hanya menyendiri di dalam kamar tempat mereka biasa beradu kasih, menghabiskan waktu dalam sujud panjang dan diam yang terasa menyesakkan.

“Di, saat mas memutuskan untuk menikahi dia, itu semua demi membahagiakan ibu Di. Tapi tidak sedikit pun terlintas dibenak mas untuk berpisah darimu. Tidak bisakah kita jalani ini sama-sama Di? Mas janji tidak akan menyia-nyiakan kasih sayangmu Di.”

Janji ... janji itu pernah diucapkan Ardi saat memutuskan untuk menikah lagi. Dan karena janji itu pula Diah memilih keputusan berat untuk meneruskan pernikahan mereka atau mengakhiri semuanya. Janji itu tidak sepenuhnya terpenuhi, janji itu awalnya berjalan mulus dan adil. Sampai akhirnya istri baru Ardi mengandung anak pertama mereka, sikap Ardi pun mulai berubah. Satu kejadian yang menyakitkan bagi Diah dan tidak akan terlupakan adalah saat Ardi meminta Diah untuk jalan bersama memilih perlengkapan bayi. Ardi ingin Diah juga terlibat, tapi kenyataannya menyakitkan Diah. Diah seperti pembantu yang berjalan mengikuti majikannya di belakang, sementara Ardi dan istri keduanya berjalan di depan Diah dengan tangan saling bergandengan. Air mata Diah menusuk-nusuk matanya yang kecil, berusaha keluar namun Diah tahan.

“Mas, jangan beri saya janji lagi. Saya tidak butuh janji mas. Saya ikhlas mas, kalau mas memilih dia daripada saya. Bagaimana pun, dia sedang mengandung anak yang selama ini didambakan mas. Kebersamaan kita selama ini lebih banyak menimbulkan rasa skit daripada bahagia mas. Bukankan saat kita memutuskan menikah alasannya adalah agar kita bahagia mas?”

“Tapi bagaimana saya bahagia kalau tidak ada kamu Di? Saya masih cinta dan sayang sama kamu Di.”

“Sama mas, saya juga masih sangat mengasihi mas Ardi. Tapi kalau pernikahan ini hanya memberi saya luka, dan beban yang besar dipundakmu mas, bukankah lebih baik kita berpisah mas? Saya cuma perempuan biasa mas, bukan malaikat atau bidadari surga mas. Saya cuma perempuan biasa yang ingin disayang oleh satu laki-laki secara utuh mas. Saya belum mampu berbagi dengan perempuan lain mas.”

Pertahanan Diah runtuh, airmata yang selama ini disimpan sendiri itu akhirnya menderas dipipi mungilnya. Ardi mendekap istri yang begitu dicintainya, membiarkan kemejanya basah oleh airmata perempuan kesayangannya. Berbagai macam rasa berkecamuk dalam pikiran Ardi, bagaimana pun Diah adalah perempuan yang sudah menemani kehidupannya selama lebih dari sepuluh tahun. Diah lah yang setia mendampinginya memulai semua dari awal, suka duka dilalui bersama, bahkan Ardi berjanji pada Diah akan terus melindunginya hingga akhir dunia. Lalu Tuhan mulai memainkan skenario cinta yang diluar perkiraannya, dan Ardi terjebak dilema.

“Mas, kalau mas sayang Diah, dan bingung membuat keputusan, lepaskan Diah saja mas. Biarkan Diah sendiri mas, ini  lebih baik mas untuk kita semua. Diah sudah mencoba dan berusaha semampu Diah untuk bertahan, tapi pada akhirnya Diah lelah mas. Berbagi cinta dengan Tuhan tidak sama dengan berbagi cinta dengan manusia. Sudah cukup mas, kita sudah cukup berusaha saling membahagiakan, tapi nyatanya kita lebih sering saling menyakiti. ” Mata mungilnya menatap mata Ardi yang lelah, airmata Diah sudah tak lagi bersisa. Ardi memeluk lagi tubuh mungil istrinya. Mereka berdua sama-sama diam dalam dekapan cinta yang terasa sudah mulai usang. Dekapan cinta yang dulu terasa indah kini berubah hampa, hanya waktu yang bisa memberi jawaban.

(Inspired by seorang wanita tegar yang begitu mencintai suaminya. Beberapa kejadian diubah agar tidak menyinggung siapapun, tapi isinya merefleksikan hidup sebenarnya. Semoga kamu sehat selalu mba)

Novi Sudarman

- Just ordinary mom trying to be someone...

Search

Most View

other5 Tips Berani Nyetir Sendiri Untuk Para Emak

Banyak Emak-emak yang sudah lama punya SIM A, bahkan sudah pernah b [...]

2016-05-04 21:47:23 view : 606982

inspirationPernah Bangkrut Maka Kini Dinii Fitriyah Berbisnis Tanpa Hutang Hingga Punya 300 Agen

Pernah punya bisnis komputer yang sudah berbentuk CV, ada 3 toko, o [...]

2016-09-30 09:10:18 view : 16649

bisnisSyarat Pencabutan NPWP Istri

Oleh: Zeti Arina

[...]

2016-02-18 06:33:42 view : 9228

inspirationWafer Vs Bakmi Memahami Cara Berpikir Laki laki dan Perempuan

Wafer dan bakmi. Dua jenis makanan yang sangat berbeda. Yang satu b [...]

2016-07-16 06:55:11 view : 8776

Latest posts

parenting7 Trik Balita Asyik Mudik

Tidak terasa Ramadhan sudah berlalu separuh waktu. Di satu sisi hat [...]

2017-06-11 07:51:57 view : 154

motivasiPERJALANAN

Sebuah perjalanan terkadang membuat gelisah di awal keberangkatan. [...]

2017-06-08 13:59:33 view : 169

parenting5 Cara Mendampingi Anak Gagal Capai Target UNBK

Hai Emak…. ada yang pernah mendampingi anak  menghadapi [...]

2017-06-03 06:35:37 view : 180

otherTerjebak Dalam Lift Emak Harus Tahu apa yang Perlu Dilakukan

Terjebak di dalam lift itu rasanya seperti mimpi buruk! Pernah meng [...]

2017-06-03 06:05:39 view : 191